Jumat, 02 Juli 2010

Sejarah Ponpes Mamba`ul Huda Talokwohmojo Ngawen Blora

Pesantren, pusat pendidikan dan dakwah, memainkan peran penting dalam penyebaran ajaran Islam di pedalaman pulau Jawa. Sejarah dan berdirinya pondok pesantren di Indonesia pada umumnya memiliki pola yang sama. Dari kedatangan seseorang yang mumpuni dalam bidang agama Islam, kemudian mendiami sebuah surau, atau mushola dan akhirnya mengajarkan ilmu yang telah dikuasai kepada masyarakat sekitar. Pada perkembangan selanjutnya proses tersebut diketahui oleh masyarakat luar dan menarik perhatianya untuk menuntut ilmu kepada sang ahli agama tersebut. Karena bertambahnya warga yang menuntut ilmu kepadanya, maka dibuatlah pondokan-pondokan yang dapat menampung para pendatang.
Ahli agama yang memiliki dan mengasuh perkumpulan tersebut dengan segenap peraturanya kemudian disebut kyai atau guru. Para hadirin yang datang untuk mengaji baik dari masyarakat sekitar maupun pendatang yang menetap di sana selanjutnya disebut santri. Dan yang menjadikan mereka bertemu adalah materi pelajaran yang berada pada lembaran kitab kuning. Alasan pokok munculnya pesantren ini adalah untuk mentransmisikan Islam tradisional sebagai mana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik yang ditulis berabad-abad yang lalu. Zamakhsyari Dhofier menyederhanakan pola tersebut dalam elemen-elemen pesantren, yakni kyiai, kitab klasik/kuning, santri, surau atau masjid dan pondokan.
Pola yang sama juga didapatkan pada berdirinya pondok pesantren Mamba`ul Huda Blora. Berawal dari tokoh agama yang berjuluk Longko Pati dari desa Nganguk Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Bersama istrinya tanpa diketahui alasanya mereka pindah dari kota Pati ke kota Blora, tepatnya ke desa Banjarwaru kecamatan Ngawen kab.Blora. Di sinilah lahir putra bungsunya yang bernama K.H Zainal Abidin. Putra dari pasangan pendatang inilah yang kemudian mendirikan Pondok pesantren Mamba`ul Huda.
Ketertarikan seseorang yang kaya di desa Talok Wohmojo terhadap kemahiran ilmu agama yang dimiliki oleh K.H Zainal Abidin membawa babak baru dalam sejarah desa Talokwohmojo. K.H Zainal Abidin dinikahkan dengan putri orang kaya tersebut yang bernama Kaminah. Melihat potensi anak menantunya, ayah mertua meberikan sebidang tanah seluas satu hektar di satu sisi desa Talokwohmojo untuk mengajarkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Pada tahun 1900 di atas tanah pemberian mertuanya tersebut dibangun sebuah langgar kecil-kecilan sebagai tempat mengaji Al-qur`an dan kitab-kitab kuning, di samping tempat sholat berjama`ah tentunya, layaknya pondok pesantren yang lain.
Pada tahun-tahun berikutnya beliau tidak hanya mengajarkan ilmu fiqh dan ilmu Al-qur`an saja. Setelah diangkat menjadi mursyid Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah pada tahun 1908, beliau resmi mendapatkan izin untuk mengajar dan mebai`at para santri tarekatnya di Talokwohmojo. Beliau belajar tarekat dan di baiat sebagai mursyid tarekat Naqsabandiyah Kholidiah oleh mursyid tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah yang bernama K.H Ahmad Rowobayan yang bertempat tinggal di padangan kabupaten Bojonegoro, ujung barat propensi Jawa Timur.
Mulai tahun tersebut di ataslah berjalan dua aliran yang dapat dipelajari di pondok Mamba`ul Huda, fiqh-salaf dan tasawuf-tarekat. Pondok pesantren Mambaul Huda merupakan pondok pesantren pertama dan tertua di daerah Blora, serta satu-satunya pondok tarekat di kota tersebut.
Dari pernikahan dengan Kaminah beliau mendapatkan enam putra dan tiga putri. Beliau dinikahkan dengan murid guru tarekatnya setelah istri pertamanya Kaminah meninggal dunia. Dengan Ruqoyah istri keduanya beliau mendapatkan tiga putra dan putri, dan dari keturunan inilah pondok pesantren yang di dirikanya dilanjutkan. Pada tahun 1922 K.H Zainal Abidin menghadap Allah SWT.
Periode selanjutnya pondok salaf dan tarekat di pegang oleh putra pertama dari K.H Zainal Abidin yakni, K.H Ahmad Hasan. Pada masa ini pondok sempat mengalami guncangan saat menghadapi penjajah, terutama penjajah Jepang. Tindakan represif di alamatkan pada pondok tersebut. Hingga pada akhirnya K.H Ahmad Hasan wafat pada tahun 1942.
Sepeninggalan K.H Ahmad Hasan adiknyalah yang meneruskan tongkat estafet kepemimpinan pondok tersebut. K.H Ismail yakni putra kedua dari pendiri pondok tersebut. Beliau murid kesayangan dari K.H Kholil Kasingan Rembang dan juga sempat berguru kepada Hadratus Syekh K.H Hasyim Asy`ari di Tebuireng. Di tangan K.H Islamil tersebut pondok mengalami perkembangan yang pesat, santri dari luar kota mulai berdatangan. Selain tempat persinggahan, pondok tersebut juga digunakan sebagai tempat perlindungan para ulama, pejabat dan masyarakat. Tercatat dalam sejarah pada tahaun 1948 terjadi pemberontakan PKI pertama. Pondok tersebut menjadi tempat perlindungan ulama-ulama dan pejabat pemerintahan dari ancaman PKI. Akhir September pada tahun tersebut Blora dapat dikuasai oleh PKI Muso dan dalam waktu yang singkat membentuk pemerintahan baru. Para pejabat dan ulama mendapatkan ancaman bahkan aksi pembantaianpun di arahkan kepada mereka. Bupati Blora dan tokoh-tokoh yang lain di bantai oleh PKI pada saat itu. Demikian pula saat agresi militer belanda yang kedua pada tahun 1949. Pondok Pesantren tersebut juga pernah menjadi markas pertahanan para tentara dan sukarelawan waktu melawan Belanda. K.H Ismail wafat tahun 1956.
Pada periode ini kepemimpinan diserahkan kepada putra mantu dari putri dari istri kedua K.H Zainal Abidin yakni, K.H Nahrowi. Mulai dari periode tersebut terdapat pemisahan pengelolaan pondok syari`at dan tarekat. K.H Nahrowi mengelola pondok tarekat dan pondok syari`atnya di serahkan kepada putra bungsu K.H Zainal Abidin yakni, K.H Abbas. Pada periode tersebut juga tercetus ide untuk memberi nama pondok pesantren tersebut dengan nama Mamba`ul Huda. K.H Abbas wafat pada tahun 1976 dan sepuluh tahun kemudian menyusul K.H Nahrowi yang menghadap Allah. Untuk membantu K.H Abbas dalam memegang pondok syari`at Putra dari K.H Nahrowi yakni K Rosikhin di perbantukan dan kemudian di serahkan kepada adiknya K.H Ali Ridlo yang juga menantu K.H Abbas.
Setelah meninggalnya K. H Nahrowi pondok tarekat diserahkan kepada putranya K.H Musthofa Nahrowi. Beliau merupakan merupakan mursyid Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah dan di baiat oleh ayahnya sendiri. Meskipun banyak perkumpulan pengajian tarekat seperti Syadziliyah, dan Qodiriyah di Blora hanya ada satu mursyid, yakni muryid yang ada di pondok Mamba`ul Huda Blora.
Saat ini tercatat ada 200 lebih santri yang tinggal di pondokan, baik putra maupun putri. Tentu saja angka tersebut hanya menunjukkan santri mukim yang berdatangan dari daerah diluar kota Blora bahkan ada beberapa yang berasal dari luar negeri. Santri mukim yaitu murid-murid yang berasal dari derah yang jauh dan menetap dalam kelompok pesantren. Selain santri mukim juga terdapat santri non mukim atau santri kalong, yaitu nurid-murid yang berasal dari desa-desa sekeliling pesantren yang biasanya tidak menetap di dalam pesantren. Jumlah santri tersebut hampir sama dengan santri mukim. Mereka pulang kerumah masing-masing setelah menyelesaikan mata pelajaran setiap sorenya.
Kurikulum yang disampaikan kepada santripun sama dengan pondok pesantren yang lain namun yang membuat pondok tersebut berbeda dengan pondok yang lain adalah jenjang atau tingkatan kelas yang di sediakan. Jika pondok pesantren pada umunya membuka kelas hingga Aliyah atau bahkan Khowash, namun pondok Mamba`ul Huda hanya menyediakan kelas Ibtida`iyah/Awaliyah dan hanya sampai kelas Tsanawiyah/Wustho. Sedangkan jika santri ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di anjurkan untuk menempuhnya di pondok pesantren yang lain. Untuk mengikuti perkembangan zaman, pondok tersebut menambahkan kurikulum kepada santrinya. Kurikulum tersebut adalah kurikulum pelajaranan umum guna mengikuti program pemerintah wajib belajar sembilan tahun. Akan mendapatkan ijazah setingkat SMP/MTS jika menyelesaikan jenjang pendidikan hingga ke wustho dan di tambah dengan 2 tahun untuk pelajaran umum.
Sistem pengajian yang berlaku juga sama seperti yang diterapkan pada pondok pesantren yang lain, sorogan dan atau bandongan. Sorogan adalah mengaji dengan di mulai guru membacakan kitab beberapa bait lengkap dengan terjemah dan tata bahasanya kemudian beliau menerangkan makna dari kitab yang dibaca tersebut, pada giliranya murid mengulang apa yang telah disampaikan oleh gurunya. Sedangkan sistem bandongan adalah murid hanya memperhatikan gurunya yang mengajar sembari memberikan keterangan pada kitab yang di pegangnya sama seperti pada keterangan gurunya. Jumlah murid pada penerapan sistem bandongan biasanya lebih besar dari pada sistem sorogan.
Untuk pengajian tarekat atau penduduk setempat menyebutnya dengan istilah “pengajian tuwo” di adakan secara rutin pada hari selasa dan kamis sekitar habis dzuhur. Pengajian tersebut adalah khas dari kelompok tarekat yang di adakan pondok tersebut khusus untuk para pengikut tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah. Berbagai macam dzikir di lafadzkan secara berasama-sama pada rabith yang telah ditentukan oleh mursyid beserta khalifahnya.
Pengajian tarekat tersebut di awali dengan pembaiatan setiap calon murid yang menginginkan tarekat Naqsabandiyah sebagai tempat menempuh perjalanannya menuju tuhan. Penduduk di sekitar pondok tarekat Mambaul Huda Blora mayoritas berprofesi sebagai petani. Mereka bisanya berduyun-duyun secara bersamaan membaiatkan diri kepada mursyid setempat pada bulan-bulan dimana para petani bisa agak sedikit istirahat dengan pekerjaanya. Pada bulan Safar, Syawal dan Jumadil Akhir menjadi bulan yang paling ramai untuk mendaftarkan diri sebagai pengikut tarekat tersebut. Hampir semuanya penduduk sekitar pondok pesantren Mambaul Huda telah menjadi pengikut tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah. Selain dari penduduk sekitar terdapat pula murid yang berasal dari luar daerah pondok. Bisanya dalam menempuh tahap pertama menjalani proses kehidupan bertasawuf di pondok tersebut serorang murid menetap selama berminggu-minggu untuk menerima gemblengan mental dari guru tarekat.
Kiai Nakhrawi membaiat murid-muridnya dalam dua fase. Mula-mula baiat secara kolektif, setelah itu barulah murid mendapat pelajaran pertama. Apabila memutuskan ingin meneruskan pengalaman tarekat mereka, ada baiat yang kedua, baiat secara individual. Di dalam dunia tasawuf memang terdapat maqom atau tingkatan yang harus ditempuh para murid untuk mendapatkan posisi yang paling tinggi, atau bahkan menjadi khalifah dan mursyid. Cara semacam itu diteruskan oleh murysid tarekat Naqsabandiyah pondok pesantren Mambaul Huda di Blora sekarang yakni K.H Mustofa Nahrowi.
Hanya ada satu organisasi besar yang menaungi lembaga tarekat di Indonesia, khususnya yang Mu’tabar. Organisasi ini berafiliasi kepada NU, makanya nama organisasi tersebut adalah Jam’iyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah. Kata An-Nahdliyah merpukan suatu identitas bahwa organisasi ini bermuara pada NU. Jaringan ulama’ yang tergabung dalam Jam’iyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah ini secara struktural telah ada mulai dari tingkat nasional sampai tingkat desa.
Pada pondok pesantren Mambaul Huda adalah tingkat pengurus Syu’biyah. Syu’biyah setingkat dengan pengurus tingkat kabupaten, di bawahnya ada Ghuswiyah setingkat cabang kecamatan, dan Syafiyah setingkat ranting. Di atas Syu’biyah terdapat Wustho yang setingkat dengan propinsi dan yang teratas adalah Idaroh aliyah yang berada di Pusat. Di atas pengurus nasional terdapat kepengurusan yang menaungi Negara-negara.
(dikutip dari Imam Ali Bashori ; Respon Tarekat Terhadap Relasi Agama dan Negara Di Indonesia )

3 komentar:

  1. Semoga pondok pesantren Mamba`ul Huda semakin lebih baik sesuai cita-cita mbah KH. Zainal Abidin..Amin yarobbal alamin.

    BalasHapus